19 August 2011

Hegemoni China

Berawal dari sebuah artikel mengenai ketidakmampuan China dalam menggenggam abad ke 21, muncul sebuah perdebatan menarik apakah China memang mampu atau justru akan terjungkal seiring dengan pertumbuhan ekonominya yg tinggi. Ketidakmampuan China ini, menurut Zakaria, lebih karena persyaratan-persyaratan untuk menjadikan China sebagai hegemony dunia tidak terpenuhi. Tiga persyaratan utama menurutnya adalah Economic, Political dan Geo-political. Cukup rasional memang untuk mengedepankan 3 faktor ini sebagai syarat mutlak untuk melakukan hegemony dunia. saya bukanlah penganut bahwa China mampu atau tidak mampu untuk menguasai dunia dari sisi ekonomi maupun pengaruh lainnya. Masih terlalu dini memang, bila menilik dari sejarah China yang baru saja beralih dari sistem perekonomian tertutup menjadi perekonomian (semi) terbuka.

Saya sendiri menganggap China bisa jadi menjadi leading economy di dunia abad 21 ini. Hal ini tidak hanya didasarkan pada tingginya pertumbuhan ekonomi negara ini, tetapi lebih karena permasalahan yang dihadapi oleh leading economies saat ini seperti European Union dan Amerika. Memang benar, di satu sisi bberapa prasyarat untuk menjadi negara hegemony belumlah dimiliki oleh China, tetapi kondisi ketidakpastian menjadi alternatif yang bisa mendorong China untuk menjadi leader.

Eropa: Penularan Krisis Yunani
Baik buruknya sejumlah negara menjadi suatu kesatuan mulai terlihat dari apa yang terjadi di Eropa saat ini. Ambisi untuk menjadi alternate leading economy atas Amerika memang cukup berhasil, namun toh pengelolaan APBN yg keliru di satu negara kecil seperti Yunani memiliki dampak luar biasa. Katakanlah Irlandia yang saat ini telah di bail out, bahkan negara besar layaknya Spanyol, Italia dan baru-baru ini Perancis menjadikan upaya pemulihan oleh ECB dan Jerman (negara terkuat di wilayah itu) menjadi kian tumpul.

The economist merilis bahwa hanya Jermanlah yang mampu menghasilkan pendapatan per kapita positif sejak awal mula krisis di kuartal kedua tahun 2007, sedangkan Italia dan Spanyol serta Inggris masih belum mampu untuk mendapatkan pendapatan per kapita positif. Artinya, tingkat produksi di negara-negara ini mengalami penurunan yang sangat pesat sejak dimulainya krisis.

Permasalahan lain yg pelik namun penting dalam mendukung produksi adalah pertumbuhan populasi jumlah pekerja. Saat ini, EU countries didominasi oleh individu yang sudah mulai matang (mendekati tua), di sisi lain, pertumbuhan yg dibutuhkan agar populasi tetap sustain adalah 2,1 anak per wantia, namun saat ini pertumbuhan penduduk masih berkisar 1,6 anak per wanita. Kejenuhan inilah yg nampaknya bisa menjadi bumerang bagi negara-negara EU dalam meningkatkan produksi.

Krisis Yunani yang akhirnya menyeret Spanyol dan Italia ke dalam permasalahan krisis, telah mengakibatkan buruknya indikator perekonomian. Peringkat utang, indeks saham (ini menjadi indikator karena klaim menyebutkan bahwa penduduk yg bermain di bursa di Eropa dan Amerika sebanding dengan mereka yg tidak bermain di dalamnya) dan nilai tukar. Amerika sendiri saat ini mengalami penurunan ekonomi yang cukup tajam, dan nampaknya pemerintah om Barrack masih belum mampu untuk mengembalikan posisi ekonomi Amerika. Bahkan, baru-baru ini S&P telah menurunkan peringkat utang Amerika untuk tidak lagi menjadi AAA.

AMERIKA
Lebih dari itu, dollar Amerika yang telah menjadi basis perdagangan internasional telah menjadikan beban Amerika untuk menjaga nilai tukarnya menjadi kian berat. Dengan lepasnya dollar ke seluruh dunia, berarti utang Amerika sebenarnya sangatlah tinggi (secara value uang), dan ketika nilai tukar terus turun, semakin banyak individu, institusi maupun negara yg mulai mengalihkan investasi atau pegangannya dari dollar Amerika ke mata uang lain seperti dollar Australia atau bahkan ke komoditi seperti emas - yg baru-baru ini mencapai rekor tertingginya.

03 August 2011

Inflasi saat Ramadan: Berkah atau Musibah?

Artikel ini ditulis untuk menanggapi tulisan sebelumnya dari Sdr. Arya berjudul Refleksi Konsumen terhadap Kenaikan Harga yang mengupas tentang perilaku masyarakat (pembeli dan penjual) dalam mengantisipasi bulan puasa yang umumnya ditandai dengan meningkatnya harga barang kebutuhan pokok. Dengan menggunakan sudut pandang mikroekonomi, sdr. Arya berkesimpulan bahwa para konsumenlah yang seharusnya berintrospeksi dan memberikan respons yang tepat atas fenomena rutin tahunan ini. “Inflasi selalu dan di mana pun merupakan fenomena moneter.” Begitulah yang ditulis oleh Milton Friedman. Dampak sosial yang ditimbulkan cukup banyak mengganggu stabilitas perekonomian, diantaranya memperburuk tingkat kesejahteraan masyarakat akibat menurunnya daya beli masyarakat secara umum.

01 August 2011

Refleksi Konsumen terhadap Kenaikan Harga (di Bulan Puasa)


Artikel diambil dari situs Media Indonesia pada Senin, 17 September 2007 07:27 WIB (link sudah tidak bekerja). Ditulis oleh salah satu founding parents grup “konkowiken” Sdr. Aria Ganna Henryanto, pada saat artikel ditulis masih berstatus sebagai mahasiswa Magister Sains Ilmu Ekonomi UGM dengan fokus riset pada perilaku konsumen dan mikroekonomi.

Sudah jamak terjadi menjelang hari besar agama, kenaikan harga akan terjadi. Untuk ke sekian kalinya kisah itu berulang. Seminggu sebelum puasa, harga-harga sembilan kebutuhan pokok (sembako) pelan tapi pasti merangkak naik. Dari pemantauan di lapangan, kenaikan harga dengan persentase bervariasi, antara lain: komoditas ayam potong, telur ayam, daging, sapi, gula pasir, ketan hitam dan ketan putih, kacang tanah serta tepung terigu. Sementara itu, sayuran yang naik harganya, misalnya, buncis, kembang kol, kentang, wortel, cabai, bawang putih, bawang merah, kemiri, dan jeruk limau.